Lahan persawahan di Purwomartani terhampar luas di wilayah Purwomartani. Bertani dahulu kala menjadi profesi utama masyarakat meskipun di era modern jumlah petani dan luasan lahannya semakin berkurang. Namun tradisi-tradisi ritual khusus dalam bertani masih lestari hinga sekarang. Salah satu tradisi yang popular dan rutin dilakukan secara turun temurun adalah wiwitan.
Tradisi adat Wiwitan merupakan ritual syukuran sebelum panen raya padi. Selain berdoa bersama di areal persawahan, juga ada pengambilan padi pertama. Kemudian di akhiri dengan makan bersama nasi wiwit. Atau nasi tumpeng yang dibawa saat tradisi Wiwitan.
Dahulu masyarakat melakukan wiwitan dengan tahapan yang lengkap meliputi penentuan hari, mojoki, persiapan makanan, membawa makanan ke sawah dan membuat tempat sesaji. Setelah pembacaan doa dilanjutkan dengan pemotongan padi sejumlah 14 tangkai disesuaikan dengan hari baik pelaksanaan yaitu kamis pahing, Sabtu pahing atau minggu pahing. Setelah prosesi utama selesai dilakukan maka ditutup dengan pembagian makanan.
Wiwitan adalah ritual persembahan tradisional masyarakat Jawa yang sudah ada sejak sebelum agama-agama masuk ke tanah Jawa. Di kemas tradisional dengan tenong atau tampah berisi nasi putih, ayam kampung, gudangan, sambel gepeng, sambel pecel, krupuk, tahu tempe, teri, peyek serta telur, dan biasanya dibagikan dan dibungkus dengan daun pisang atau daun jati dimaksudkan sebagai ucapan terimakasih kepada Dewi Sri. Pergeseran terjadi setelah masuk era agama, ritual khusus wiwitan menjadi ekspresi ujub syukur kehadirat Tuhan YME atas berkah dan karunia yang diberikan kepada para petani .
Prosesi ritual khusus wiwitan selalalu dilakukan sebelum panen.
Setelah prosesi selesai maka sesaji ritual wiwitan dibagikan kepada petani dan masyarakat yang ada di sekitar sawah.
