Sumur Kawak Sidokerto

August 6, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Sumur kawak dan Mitos tidak boleh ada acara wayang di padukuhan Sidokerto

Sumur kawak ini keberadaannya sudah dipercayai sejak zaman penjajahan. Sumur ini merupakan sebagian dari sumber kehidupan masyarakat pada zaman dahulu, karna sumur kawak ini adalah sumber mata air untuk keberlangsungan hidup yang letak keberadannya sangat sentral di desa ini. Sumur ini ada untuk membantu masyarakat untuk mendapatkan air bersih, karna pada zaman dahulu untuk mendapatkan air, masyarakan harus turun ke kali, yang mana jarak desa ke kali jaraknya ± 500 meter. Orang-orang zaman dahulu banyak memberikan sesajen atau permintaan kepada sumur kawak, agar sumur tersebut tidak pernah kehabisan air. Jadi, awalnya orang-orang berharap sumur kawak ini tidak pernah mengering, dengan cara berdoa kepada Tuhan di sumur kawak menggunakan sesajen. Lambat laun karna ilmu dinamisme, animisme, mereka percaya ada sesuatu atau leluhur yang menunggu sumur kawak ini yang airnya terus menerus mengalir. Maka dari situ orang orang terus memberikan sesajen, memberikan permintaan, memanjatkan doa. Dengan harapan leluhur yang ada di sumur kawak ini mengalirkan air terus menerus. Tidak hanya menggunakan sesajen tetapi juga menghormati apa yang kira kira tidak di sukai oleh leluhur yang menempati sumur kawak ini. Salah satu yang tidak disukai leluhur menurut penduduk yaitu ketika ada yang mengadakan wayang kulit. Jadi leluhur ini dipercaya oleh warga desa sidokerto tidak menyukai wayang, ini diwujudkan, bahwa, pada zaman dahulu pernah ada warga yang ngeyel mengadakan wayang kulit ini dengan kekeh mengadakan wayang, dan ternyata ada masalah yang menimpa keluarga ini setelah mengadakan wayang kulit ini. Kepercayaan ini masih di percaya oleh penduduknya hingga saat ini. Sejak saat itu, warga Sidokerto tidak ada yang berani mengadakan acara wayang kulit.