Padukuhan Karangmojo terdiri dari 6 sub dusun diantaranya Dusun Karangmojo, Karanganom, Losari, Purwokerto, Pronanggan, dan Jambusari. Penamaan Padukuhan Karangmojo karena kepala Dusun sendiri bertempat tinggal di Karangmojo disebut juga Karangmojo adalah ibukotanya. Setiap Sub Dusun memiliki Riwayat penamaan sendiri-sendiri. Pemberian nama Sebagian besar adalah dari masyarakat yang berdomisili pertama kali itu sendiri dan biasanya dikaitkan dengan lingkungan sekitarnya.
- Karangmojosejarahnya dulu terdapat tanaman buah mojo yang lumayan banyak. Buahnya seperti jeruk Bali tapi rasanya pait. Tapi pada saat ini Pohonnya sudah tidak ada lagi. Tokoh yang memberi nama adalah Kyai Iro Prononggo.
- Pronanggan namanya diambil dari cikal bakal Padukuhan ini yaitu Kyai Iro Prononggo. Makamnya berada disebelah utara Dusun Pronanggan.
- Losari ini penduduknya tidak banyak berada di RT 01 RW 01, hanya beberapa rumah yang terletak diselatan Dusun Karangmojo. Karena dahulunya terdapat banyak tanaman Lo atau ubi jalar warga pada umumnya menyebutnya dengan Losari.
- Jambusarimasuk di wilayah RT 12 RW 04 adalah dusun yang yang terletak disebelah utara Padukuhan Karangmojo, dinamakan dusun Jambusari karena diwilayah itu sangat banya pohon Jambu monyet atau Jambu mete. Bahkan sampai sekarang masih banyak pohon jambu diwilayah Jambusari.
- Purwokertodulunya merupakan tanah kas desa. Dengan kebijakan lurah bagi orang yang tidak punya hak tanah kemudian diberi tanah. Oleh orang-orang yang berdomisili disitu kemudian diberi nama Purwokerto, terbagi menjadi Purwo (wiwitan atau permulaan) kerto (kertoraharjo yang berarti subur).
- Karanganom Ketika ada warga di 5 sub dusun yang lain mempunyai anak kemudian dinikahkan. Setelah menikah kemudian ditempatkan atau diberi tanah disitu, karenanya daerah ini tidak ada orangtuanya, hanya anak-anak muda atau enom-enom. Dan karena terletak disebelah Karangmojo maka diberi nama Karanganom.
Di Padukuhan Karangmojo ada 3 makam diantaranya makam utara terletak di Dusun Pronanggan RW 04, Makam Tenggah di Dusun Karangmojo RW 02 dan makam selatan di Losari wilayah RW 01 Karangmojo. Ada kepercayaan bahwa jika salah satu warga meninggal kemudian dikuburkan pada salah satu makam maka 2 makam yang lain meminta juga dalam jangka waktu beberapa hati atau tidak tentu. Biasanya pada malamnya ada tanda-tanda, semacam suara aneh. Letak penguburan biasanya disesuaikan dengan nenek moyangnya. Memang tidak bisa dipikirkan dengan logika tapi kita tidak tahu apakah kebetulan atau tidak hal itu terjadi, sehingga menimbulkan kepercayaan atau orang-orang menunggu hal yang terjadi setelahnya, siapa yang akan menyusul.
-Pada jaman dulu, saat terjadi pageblug (wabah penyakit), paling parah terjadi tahun 1970an. Jika pagi sakit sore meninggal atau sebaliknya. Hal ini membuat mereka cemas dan kemudian mengadakan dzikir bersama tengah malam berkeliling kampung dengan telanjang. Tapi pada perkembangannya berpindah ketiap rumah dan cara telanjang dihilangkan karena tidak sesuai dengan ajaran islam.
Untuk tempat yang dikeramatkan:
Sumur Kawak/tua
Sumur yang tidak diketahui pembuatnya itu, kira-kira sudah 1800an tahun berada diPadukuhan Karangmojo khususnya diwilayah RT.03 RW.02. Dasar Sumur yang terbuat dari batu yang bentuknya seperti batu candi. Setiap ada warga yang mempunyai hajat atau akan mengadakan pernikahan, khitanan dan lain-lain maka sebelumnya membuat sesaji dan dimasukan kedalam sumur itu. Tidak hanya didalam sumur saja , tapi sesaji juga diletakan disetiap perempatan besar ujung kampung Karangmojo. Berharap acara hajatan berjalan dengan lancar.
Kepercayaan yang lain adalah sumur ini bisa mengabulkan permohonan perempuan yang ingin punya anak yaitu dengan duduk ongkang-ongkang dipinggir sumur itu dan memohon disumur itu selama 7 kali hari Jumat. Apabila peziarah kurang tau tentang sumur itu bisa dibantu oleh juru kuncinya.
Mbah Kolo Munyeng
Di Dusun Pronanggan terdapat arca kecil berbentuk perempuan . Kadang muncul atau kelihatan, kadang tidak karena letaknya didalam tanah. Sebagai tanda diberi pagar keliling , arca ini pernah diambil oleh pihak kraton , juga pernah diteliti oleh pihak purbakala, sampai saat ini belum ada keterangan yang jelas. Orang-orang yang membuat acara hajatan juga membuat sesaji untuk diletakan disitu.