JATHILAN

August 4, 2025

DAPOBUD-OPK: Seni,

Jaranan Sentherewe Turangga Wijaya

Sekitar tahun 1980 di dusun Sorogenen pernah tinggal seorang dalang terkenal bernama Ki Gondo Margono. Pengaruhnya terhadap kesenian sangat besar, terutama dalam bidang seni pertunjukan wayang orang dan ketoprak. Setelah beliau wafat kegiatan kesenian di dusun ini mengalami kemunduran dan mati, hingga akhirnya pada tahun 1995 muncul kelompok seni Jaranan Sentherewe. Keberadaan kesenian ini mampu menarik minat masyarakat dusun Sorogenen kembali untuk berkesenian. Jaranan Sentherewe di dusun Sorogenen pada awalnya bernama Jaranan Sentherewe Kembang Sore karena diperkenalkan oleh pimpinan Sanggar Tari Kembang Sore. Pimpinan sanggar tersebut bernama Untung Muljono yang merupakan seniman dari Jawa Timur. Pada awal tahun 1995, beliau memperkenalkan sebuah kesenian yang disebut kesenian Jaranan Sentherewe yang berasal dari Tulungagung Jawa Timur. Kesenian Jaranan Sentherewe ini akhirnya dapat diterima dan dikembangkan oleh masyarakat Sorogenen. Hingga pada tahun 2001 kesenian jaranan ini tidak lagi dalam naungan Sanggar Tari Kembang Sore, namun telah berdiri sebagai suatu bentuk kesenian tradisi milik dusun Sorogenen II. Kesenian tersebut berganti nama menjadi kesenian Jaranan Sentherewe Turangga Wijaya. Hal ini sudah diakui oleh pejabat setempat sebagai salah satu kesenian tradisi di Kapanewon Kalasan Kabupaten Sleman. Pada awalnya Untung Muljono hanya memperkenalkan wujud tarian dan iringannya, namun para anggotanya memberikan tambahan sentuhan magis dalam sajian pertunjukannya, yakni menambahkan sesajen (sesaji) dan melakukan berbagai atraksi trance. Pertunjukan tersebut terdiri dari beberapa unsur seni, yaitu: seni tari, seni musik, seni rupa, serta tata rias busana. Jaranan Sentherewe Turangga Wijaya terdiri dari beberapa aspek yang membentuknya, yaitu: tema, bentuk koreografi, tempat dan waktu pertunjukan serta pola lantai. Properti yang digunakan oleh masing-masing penari adalah kuda-kudaan (jaranan) yang terbuat dari anyaman bambu dan pecut. Properti ini diadaptasi sesuai dengan daerah asalnya sehingga karakteristik Jaranan Sentherewe tetap dapat dipertahankan. Pertunjukan Turangga Wijaya memiliki struktur penyajian yang memiliki konsep tersendiri. Pertunjukan tarinya terdiri dari bagian sembahan, persiapan, jogedan, dangdutan, jogedan (kedua), perangan dan perang barongan. Penonton melihat dari awal hingga akhir karena pertunjukan yang disajikan sangat dinamis baik dari segi tari maupun musiknya. Terkadang penonton menantikan bagian terakhir dari pertunjukan ini, yaitu pada adegan ndadi (kerasukan). Bagian ini berlangsung setelah pertunjukan tari berakhir dan sekaligus menjadi penutup. Kesenian Turangga Wijaya seperti kesenian di Jawa pada umumnya yang identik dengan ritual sesaji. Sesaji yang dihadirkan berupa nasi putih dengan segala macam sayuran dan buah-buahan. Selain itu juga menyajikan anak ayam yang masih hidup sebagai bagian penting dari sesaji. Keseluruhan sesaji disajikan sebelum pertunjukan dimulai dan diletakkan tepat di depan para penabuh gamelan. Sesaji disini memiliki makna dan simbol dalam setiap pertunjukan yang patut dikaji tentang nilai-nilai kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat. Bentuk gerak dalam tari ini tegas, kuat, dan dinamis. Karakter yang dimunculkan adalah ekpresi dari karakter gagah, oleh sebab itu posisi kuda-kuda (kaki mendhak terbuka) menjadi dominan dalam motif-motif geraknya. Penjajaran motif yang beragam menjadi karakteristik Turangga Wijaya. Fungsi dalam kesenian ini sebagai sarana upacara adat dan hiburan. Fungsi ini melibatkan keikutsertaan masyarakat sebagai penyangga keberadaan kesenian Jaranan Sentherewe Turangga Wijaya di Dusun Sorogenen II. Fungsi tersebut dipengaruhi juga oleh beberapa faktor yang mendukung keberadaan kesenian ini, yaitu: faktor dari segi masyarakat pendukung, bentuk pertunjukan, dan pencipta tari. Nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam Jaranan Sentherewe Turangga Wijaya tersebut adalah nilai religi, nilai kepemimpinan, nilai kebersamaan dan gotong royong, serta nilai solidaritas

Jathilan Senterewe

Kesenian Jathilan ”Mudho Bromo Satrio”

Mudho Bromo Satrio merupakan kesenian jathilan dari dusun bromonilan yang sudah ada sejak tahun 1990, saat ini berkembang menjadi kesenian jathilan modern dengan menampilkan tarian dan gamelan yang menarik dan beragam disesuaikan dengan era sekarang. Mudho bromo satrio memiliki beberapa babak putra putri dari usia anak sampai dewasa dengan berbagai tarian yang beragam sehingga banyak dipanggil untuk mengadakan pertunjukan di beberapa daerah di daerah jogja dan sekitarnya. Jadwal latihan Mudho Bromo Satrio adalah selapan sekali dan latihan dimaksimalkan pada saat akan ditampilkan.

 

Jathilan Mudo Bromo Satrio

 

Jathilan Turangga Agung

Sebuah kesenian tidak bisa lepas dari kehidupan bermasyarakat sebuah tempat. Hal ini juga terjadi di Padukuhan Kadirojo I, Purwomartani, Kalasan, Sleman. Sebuah kesenian yang hingga saat ini masih berkembang ditengah modernisasi disegala aspek di Padukuhan Kadirojo I adalah kesenian jathilan atau jaranan. Turonggo Agung menghadirkan sebuah pementasan jaranan atau kuda lumping. Dalam pementasannya Turonggo Agung tidak hanya menampilan satu babak atau sekali penampilan saja, tetapi ada beberapa babak. Ciri dari babak-babak tersebut adalah siapa yang mementaskannya. Contohnya adalah, jika dalam penampilan yang pertama yang mementaskanya adalah laki-laki remaja, maka penampilan tersebut disebut babak pertama.

Turonggo Agung tidak hanya menampilkan kesenian jathilan saja, tetapi juga ada kesenian barongan dan gedruk. Kesenian ini sudah ada sejak lama di Padukuhan Kadirojo I. Walaupun keberadaanya sudah lama, tetapi peminat dari kesenian ini masih sangat banyak. Terbukti dari setiap pementasannya pasti sangat ramai orang yang melihat.

Turangga agung sendiri terkenal karena ada satu babak yang menampilkan Seni Jaranan Klasik atau disebut Jathilan Lancur ciri khas Kabupaten Sleman

 

Jathilan Dhor Jolodoro & Jathilan Mudho Prasetya

 

Jathilan sendiri berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa, yaitu Jan yang artinya benar-benar, dan thil-thilan yang berarti banyak gerak. Istilah ini umumnya lebih banyak digunakan oleh masyarakat di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dalam tari Jathilan, para penari terlihat mempertontonkan banyak aksi yang menyimbolkan kegagahan seorang prajurit di medan perang. Mereka bergerak bak aksi menumpas musuh dengan pedangnya sambil menunggangi kuda yang berderap kencang. Namun dalam aksinya, penari jathilan tak menunggangi kuda sungguhan, melainkan menggunakan kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu atau kulit binatang. Kuda ini kemudian disebut sebagai kuda kepang.

Penari Jathilan biasanya tampil dalam balutan kostum prajurit yang berwarna merah, kuning, atau hitam. Bentuk pakaiannya berupa kemeja atau kaus lengan panjang, setagen, ikat pinggang bergesper, selempang bahu, celana sebatas lutut, selendang pinggang, kain ikat kepala, dan hiasan telinga. Mereka juga umumnya tampil dalam riasan yang mencolok atau mengenakan kacamata hitam. Dalam proses menari, biasanya para penari menarikan lakon yang serupa, yakni tentang kehidupan para prajurit di masa Kerajaan Majapahit dimana mereka diganggu oleh bermacam-macam musuh, mulai dari Barongan (singa) hingga Genderuwo.Gerakan para penari terlihat begitu dinamis, agresif, serta sangat gagah berani saat melawan musuh.