UPACARA ADAT SURAN BATHOK BOLU

July 15, 2025

DAPOBUD-OPK: Ritus,

Upacara Bathok Bolu merupakan upacara tradisi  yang dilakukan secara turun temurun oleh penduduk Padukuhana Sambiroto, Kalurahan Purwomartani, Kapanewon  Kalasan, Kabupaten Sleman, tepatnya bertempat di Kraton  BATHOK BOLU. Waktu pelaksanaan upacara pada setiap tanggal 9 Suro dalam penanggalan Jawa. Maksud dan tujuan dilaksanakan upacara tersebut yaitu untuk mengenang seorang tokoh cikal bakal Padusunan Sambiroto yaitu Eyang  Guru mertani. Eyang Demang Ranupati adalah seorang ahli nujum dari Kraton Mataram yang wafat di alas Ketonggo Sambiroto yang disertai pengikutnya( dalam bahasa jawa Penderek e ) yaitu Eyang Suro gati, Eyang suro digdo dan Pangeran ganti. Selain itu upacara juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan keselamatan, kesejahteraan dan rezki yang melimpah bagi masyarakat Sambiroto, Disamping itu  kenikmatan tersendiri yang dirasakan warga sambiroto sebagai Pegawai,Tani,Dagang biasa dikatakan dalam bahasa jawa Rejo mulyo dusun sambiroto.

Sejarah Kraton Bhatok Bolu sebagai ; Tanah gunukan (dalam bahasa jawa GUMUK) untuk sebagai bertapa ritual Gusti Kanjeng Ayu Wijoyo Kusumo dari Majapahit yang ke 5 untuk menurun kan wahyu ditlatah majapahit mataram dari majapahit ke Mataram bagi siapun yang mempunyai keyakinan dengan yang maha kuasa lantaran gusti kanjeng ayu wijoyo kusumo konon crita akan dikabulkan dengan syarat bertapa doa kepada Tuhan Yang Maha Esa . itulah sedikit cerita sejarah Kraton bhatok Bolu.

Dan selain ada petilasan Gumuk disamping juga terdapat sendang atau mata air yang bernama Sendang Ayu Tirto Mulyo dan Sendang Ayu Tirto Weningasal mula sendang tersebut berada ditengah sungai ada seorang ritual bersama bapak juru kunci ke 1 yang bernama Yikno Wiarjo menemukan mata air tesebut lalu oleh beliau dibersihkan sekitar mata air tersebut pada tahun 1989 lalu diberikan nama Sendang Ayu Tirto Mulyo dan Sendang Ayu Tirto Wening ,konon cerita sendang tersebut untuk pemandian dayang dayang Kraton Bathok Bolu ,dan oleh warga sambiroto diyakini air tersebut untuk panguripan karna mata air terbut baik musim kemarau maupun musim hujan tetap mengalir. Oleh warga pada jaman dahulu dimanfaatkan untuk Pemandian,air minum,dan pengaliran persawahaan.

Rangkaian upacara adat Bathok Bolu, yang dilasanakan 1-10 Suro penanggalan Jawa

Diawali  dengan gotong royong membersihkan sekitar kawasan Kraton Bathok Bolu, yaitu di Sendang Panguripan, makam, dan sekitar Joglo Kraton Alas Ketonggo yang dilakukan oleh semua penduduk Sambiroto.

Persipan sesaji :

  1. Air kehidupan (banyu penguripan) yang ditempatkan pada kendi besar disemayamkan di masjid Nurul Huda Alim (NHA).
  2. Beras kurang lebih 1,5 kwintal untuk membuat gunungan
  3. Perlengkapan gunungan berupa hasil bumi, baik sayuran maupun buah-buahan hasil Tani warga sambiroto
  4. Ayam jantan jawa untuk dibuat ingkung, yang mrupakan rangkaian dari tumpeng  uripe srengenge.
  5. Tumpeng urupe srengenge yang dibuat dari nasi kuning
  6. Jenang luber, diibuat dari beras ketan diwarnai merah dan putih
  7. Jenang tukang ghoib, dibuat dari ketan hitam, beras merah, beras diwarnai kuning
  8. Pisang raja setangkep, masing-masing lirang berjumlah songo (9)
  9. Kain mori selembar 4 m
  10. Kembang setaman dengan rangkaian melati
  11. Janur kuning
  12. Kinang
  13. Kemenyang dan Dupa

Prosesi upacara :

  1. Kirab banyu panguripan yang diambil dari Sendang Ayu yang ditempatkan dalam kendi besar yang oleh juru kunci mulai dari Masjid Nurul Huda Alim sampai Joglo Kraton Alas Ketonggo. Dalam kirab ini disertakan juga payung, tombak, bendera yang merupakan pusaka paringan dalem Kraton Yogyakarta
  2. Ikut dikirab juga tumpeng urupe srengenge dan gunungan besar berjumlah tiga
  3. Kirab dikawal oleh bregada prajurit Bathok Bolu.
  4. Urutan paling belakang adalah iringan kesenian tradisional, berupa sholawatan, jathilan, drum band dan lain-lain.

Kirab sesaji diikuti segenap warga yang berpakaian Jawa Mataraman jangkepSajen .

Setelah sesaji sampai di Joglo Kraton Alas Ketonggo, kemudian disemayamkan di alas Bathok Bolu untuk dimintakan berkah kepada Allah SWT yang diserahkan dri juru kunci di Kraton Bathok Bolu lalu dilanjutkan Do’a yang dipimpin oleh rois (sesepuh agama dusun). Selanjutnya air dibagikan pada semua pengunjung yang percaya untuk mendapatkan berkah.Sedangkan gunungan buah dan sayuran diperebutkan oleh semua pengunjung disekitar lapangan bhatok bolu yang konon dipercaya sebagai simbul keberkahan warga.

Sebagai penutup digelar pertunjukan kesenian tradisional berupa wayang kulit, jathilan,

kethoprak, sholawatan dan badui.